PONTIANAK, (IE) – Aksi demonstrasi Jilid 2 bertajuk Seruan Aksi Kalbar Revolusi di Kota Pontianak, Rabu (21/10/2026), berakhir ricuh. Ratusan mahasiswa yang memusatkan aksi di kawasan Taman Digulis, Bundaran Universitas Tanjungpura (Untan), terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian hingga malam hari.
Kericuhan terjadi setelah massa bergerak dari Kantor Gubernur Kalimantan Barat menuju kawasan Bundaran Digulis. Situasi yang semula berlangsung sebagai penyampaian aspirasi kemudian memanas. Sejumlah demonstran membakar pembatas jalan dan ban bekas, serta membentangkan spanduk berisi kecaman, di antaranya bertuliskan “Di mana korban, di mana ormas” dan “Di mana Norsan”.
Ketegangan meningkat ketika terjadi aksi saling lempar batu antara massa dan aparat. Polisi kemudian mengerahkan kendaraan taktis Barracuda dan menyemprotkan air menggunakan water cannon untuk membubarkan serta memukul mundur demonstran.
Sebuah pos polisi di sekitar bundaran juga dilaporkan nyaris terbakar. Petugas kemudian berupaya memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).
Bawa 20 Poin Tuntutan
Dalam aksi Jilid 2 ini, mahasiswa menyuarakan sedikitnya 20 poin tuntutan yang mencakup sejumlah persoalan di Kalimantan Barat maupun tingkat nasional.
Tuntutan tersebut antara lain mendesak penanganan serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemberantasan korupsi, perbaikan kualitas pendidikan, serta penyelesaian persoalan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan tingginya harga kebutuhan pokok.
Mahasiswa juga mendesak pengusutan dugaan kekerasan yang melibatkan oknum organisasi kemasyarakatan (ormas) terhadap mahasiswa dalam aksi demonstrasi sehari sebelumnya, Selasa (20/10/2026).
Peristiwa pada 20 Oktober itu menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan. Sejumlah mahasiswa yang hendak menuju Kantor Gubernur Kalbar diduga mengalami bentrokan dan pemukulan oleh orang-orang yang diduga merupakan anggota ormas.
Dugaan kekerasan tersebut menuai kecaman dan memunculkan desakan agar Presiden Prabowo Subianto serta Kapolri mengusut kasus itu secara tegas dan transparan.
Sempat Tertib, Bertahan hingga Malam
Sebelum situasi memanas, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengingatkan mahasiswa agar tetap menjaga ketertiban dan tidak merusak fasilitas publik saat menyampaikan aspirasi.
“Dalam demonstrasi yang dilakukan mahasiswa, kita sama-sama harus tetap menjaga infrastruktur yang sudah dibangun. Silakan menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi, tetapi jangan sampai merusak fasilitas umum,” ujar Edi.
Hingga pukul 17.25 WIB, sebagian massa yang sebelumnya beraksi di Kantor Gubernur Kalbar terpantau membubarkan diri dan berkumpul di kawasan Taman Digulis, Bundaran Untan. Saat itu, massa masih berkumpul dengan tertib di bawah pengamanan Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto.
Namun, situasi berubah ketika massa bertahan hingga malam hari. Upaya aparat meminta demonstran mundur, termasuk dengan menyemprotkan water cannon, tidak mampu meredakan ketegangan. Bentrokan pun kembali terjadi di kawasan Bundaran Digulis.
Aksi tersebut menjadi perhatian di tengah desakan mahasiswa agar pemerintah dan aparat penegak hukum menindaklanjuti berbagai persoalan yang mereka suarakan, termasuk dugaan kekerasan terhadap peserta aksi sehari sebelumnya.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat informasi terverifikasi mengenai jumlah korban maupun pihak yang diamankan dalam kericuhan tersebut. (*)
