PONTIANAK, (IE)- Upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan melalui kegiatan edukasi kesehatan.
Dalam kegiatan tersebut, Ns. Rifda Angelina Wulandari, S.Kep. memberikan edukasi kepada pengunjung rawat jalan RSUD SSMA mengenai TBC secara menyeluruh, mulai dari pengertian, jenis, gejala, pemeriksaan, pencegahan hingga pentingnya menjalani pengobatan secara tuntas, Senin (24/8/2026).
Dalam pemaparannya, Ns. Rifda menjelaskan bahwa Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lainnya. TBC menjadi salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian karena dapat menyebar melalui udara ketika penderita TBC paru mengeluarkan kuman, terutama saat batuk, bersin, berbicara, atau meludah.
Menurutnya, beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk yang berlangsung lama, demam, berkeringat pada malam hari, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, tubuh mudah lelah, serta batuk berdahak yang dapat disertai darah,
“Jangan menganggap batuk berkepanjangan sebagai hal biasa. Jika terdapat gejala yang mencurigakan, segera lakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan,” jelas Ns. Rifda dalam edukasinya.
Untuk memastikan seseorang menderita TBC, Rifda menjelaskan perlunya pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan dahak, rontgen dada, maupun pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.
Pemeriksaan sejak dini sangat penting agar penderita segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan kepada keluarga maupun orang di sekitarnya dapat dikurangi.
Ns. Rifda juga mengingatkan bahwa pencegahan TBC perlu dilakukan bersama. Masyarakat dianjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga ventilasi serta sirkulasi udara, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika diperlukan, serta melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mengarah ke TBC.
“Vaksinasi BCG pada bayi juga merupakan salah satu upaya pencegahan yang penting, terutama untuk membantu melindungi anak dari bentuk TBC yang berat,” ungkapnya.
“Walaupun sudah merasa lebih baik, obat TBC tetap harus diminum sampai selesai sesuai petunjuk. Jangan menghentikan pengobatan sendiri,” tegas Ns. Rifda.
Pasalnya pengobatan yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko penyakit kambuh dan munculnya kuman TBC yang resistan terhadap obat.
“Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa TBC dapat dicegah, dapat didiagnosis, dan dapat disembuhkan apabila ditangani dengan tepat serta pengobatannya dijalani sampai tuntas,” pungkasnya.(*/r)
