Pontianak, Indoekspose.id – Penjabat Gubernur Kalimantan Barat, dr. Harisson, M.Kes., membuka diskusi mengenai penguatan peran berbagai pihak dalam implementasi proyek Green Climate Fund (GCF) di Kalimantan Barat. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Mercure Pontianak, Rabu (6/11/2024), dengan partisipasi sejumlah organisasi pemerhati lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, Pj. Gubernur Harisson mengungkapkan bahwa Kalimantan Barat menerima hibah senilai 59,5 juta Euro atau sekitar 1 triliun rupiah dari negara-negara maju, termasuk Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat, melalui skema GCF. Dana ini akan digunakan selama tujuh tahun untuk melestarikan hutan serta memberdayakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
“Dana ini akan dimanfaatkan melalui program selama tujuh tahun, yang bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat hutan dengan mengembangkan potensi lokal,” kata Harisson. Ia berharap, program ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah hutan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berencana melibatkan berbagai organisasi pemerhati lingkungan dalam perencanaan penggunaan dana hibah ini. Menurut Harisson, kolaborasi dengan masyarakat dan organisasi lokal sangat penting untuk mencapai tujuan program secara efektif.
“Hari ini kita mengundang organisasi pemerhati lingkungan agar terlibat dalam merencanakan langkah-langkah ke depan, sekaligus memastikan dana tersebut digunakan sesuai sasaran,” jelasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani, menambahkan bahwa sasaran program ini adalah lima kabupaten di Kalimantan Barat, yakni Kapuas Hulu, Sintang, Sanggau, Kubu Raya, dan Ketapang. Sebanyak 200 desa di kabupaten-kabupaten tersebut akan menerima manfaat langsung dari dana hibah ini.
“Setiap desa akan mendapatkan dana miliaran rupiah yang dialokasikan selama tujuh tahun. Kita akan mendorong program yang mencakup perhutanan sosial, hutan desa, hutan adat, dan program desa ketahanan iklim untuk memperkuat kesejahteraan dan ketahanan lingkungan,” ungkap Adi Yani.
Adi Yani menjelaskan bahwa peran mitra-mitra lokal sangat penting dalam mengawasi pelaksanaan program ini di lapangan. Pemerintah berharap agar proyek ini dapat menjadi model pelestarian lingkungan yang sukses di Kalimantan Barat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan hutan. (adpim)






